Apabila telah Kubebankan kemalangan (bencana) kepada salah seorang hamba-Ku pada badannya, hartanya, atau anaknya, kemudian ia menerimanya dengan shabar yang sempurna, Aku merasa enggan menegakkan timbangan baginya pada hari qiamat atau membukakan buku catatan amalannya baginya. (HQR al-Qudla'i, ad-Dailami dan al-Hakimut-Turmudzi dari Anas r.a.)
Shabar adalah menahan diri dan membawanya kepada yang dituntunkan syara' dan akal serta menghindarkannya dari apa yang dibenci oleh keduanya. Jadi shabar ialah suatu kekuatan, daya positip yang mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban. Di samping itu shabar adalah satu kekuatan (daya) preventif yang menghalangi seseorang untuk melakukan kejahatan.
Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali menegaskan: "Shabar ialah tetap tegaknya dorongan Agama berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Dorongan Agama ialah hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal-Nya, Rasul-Nya serta mengetahui dan mengamalkan ajaran-Nya dan kemaslahatan-kemaslahatan yang bertalian dengan akibat-akibatnya. Shabar yaitu sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedang dorongan hawa nafsu ialah tuntutan syahwat dan keinginan yang minta dilaksanakan.






0 komentar:
Post a Comment